-
Kopdes Merah Putih Target 80 Ribu Gerai Ritel Modern sebagai Ekosistem Ekonomi
Jakarta – Pemerintah terus mempercepat pembangunan Koperasi Desa Merah Putih (Kopdes Merah Putih) sebagai tulang punggung ekonomi rakyat dan pusat ritel modern di tingkat desa. Inisiatif besar ini menjadi salah satu strategi penguatan ekonomi nasional berbasis komunitas, dengan target menghadirkan 80.000 gerai berstandar modern yang dapat menjadi pusat layanan ekonomi, sosial, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.…
-
Pemerintah Dorong Koperasi Desa Jadi Motor Produksi Nasional
Oleh : Ricky Rinaldi Pemerintah semakin menegaskan pentingnya koperasi desa sebagai tulang punggung ekonomi nasional melalui percepatan program Kopdes Merah Putih. Program ini dirancang agar desa menjadi pusat produksi, distribusi, dan pemberdayaan ekonomi yang mandiri. Deputi Bidang Pengembangan Talenta dan Daya Saing Koperasi di Kementerian Koperasi, Destry Anna Sari, menyatakan penguatan kapasitas SDM pengurus dan pendamping koperasi desa…
-
Mendorong Peran Kopdes Sebagai Basis Ekonomi Lokal Produktif
Oleh: Dimas Permana )* Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih semakin meneguhkan perannya sebagai fondasi penting dalam memperkuat ekonomi berbasis kerakyatan di tingkat desa. Dalam konteks pembangunan ekonomi nasional yang menempatkan desa sebagai sentrum pertumbuhan baru, keberadaan struktur kelembagaan seperti Kopdes menjadi sangat strategis untuk memastikan masyarakat memiliki akses terhadap kegiatan usaha yang stabil dan berkelanjutan. Pemerintah melalui…
-
MBG Jangkau Puluhan Juta Penerima Manfaat untuk Pemerataan Gizi Nasional
Jakarta — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus menunjukkan capaian yang signifikan dalam upaya pemerataan akses nutrisi di seluruh wilayah Indonesia. Presiden RI, Prabowo Subianto menyebut program MBG telah menjangkau 49 juta penerima manfaat. Presiden mengatakan MBG saat ini telah bisa disalurkan ke daerah-daerah pelosok dan terpencil. “Saat ini sudah 49 juta makanan tiap hari,…
-
MBG Jadi Program Strategis Penguatan Gizi Anak Indonesia
Jakarta — Pemerintah melalui Program Makan Bergizi Gratis atau MBG terus menunjukkan komitmen kuat dalam memperkuat kualitas gizi dan kesehatan anak Indonesia. Program ini dipandang sebagai langkah strategis untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia di masa depan. Di tengah tantangan ketahanan pangan dan isu stunting, MBG hadir bukan hanya sebagai penyedia makanan, tetapi sebagai investasi…
-
Dapur MBG Beroperasi di 38 Provinsi, Sediakan Makan Sehat untukPuluhan Juta Anak
Oleh: Juana Syahril)* Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kini memasuki fase penting dalampelaksanaannya, ditandai dengan beroperasinya ribuan dapur MBG di 38 provinsi. Program nasional yang digagas untuk memperkuat kualitas gizi anak Indonesia iniberkembang pesat, baik dari sisi cakupan layanan maupun kesiapan infrastrukturdapur. Dengan operasional yang semakin luas, MBG diproyeksikan mampumenyediakan makan sehat untuk puluhan juta anak di seluruh Indonesia, sekaligusmemperkuat fondasi pembangunan sumber daya manusia sejak usia dini. Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, mengatakan progressignifikan yang telah dicapai hingga saat ini telah terbentuk 16.503 SatuanPelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang tersebar merata di 38 provinsi, 509 kabupaten, dan 7.022 kecamatan. Cakupan ini menunjukkan bahwa dapur MBG sudah benar-benar beroperasi di skala nasional dan menjadi instrumen utamapenyedia makanan sehat bagi anak-anak dari berbagai latar belakang sosial dan wilayah geografis. Keberhasilan ini tidak datang begitu saja. Pemerintah melalui BGN terusmembangun sistem yang solid untuk memastikan seluruh dapur MBG memilikistandar layanan yang sama, baik di kota besar maupun di daerah terpencil. Denganlebih dari 14 ribu SPPG tambahan yang sedang dipersiapkan, cakupan layananMBG diperkirakan akan terus meningkat. Besarnya animo calon mitra bahkanmembuat portal pendaftaran ditutup secara permanen, sebagai langkah untukmemfokuskan pembinaan pada mitra yang telah terdaftar dan memastikanpenguatan kualitas layanan. Untuk menjaga kualitas makanan yang diberikan kepada anak-anak, setiap dapurMBG di seluruh provinsi diwajibkan mengikuti standar operasional prosedur yang ketat. Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Nanik Sudaryati Deyangmengatakan pentingnya kedisiplinan seluruh mitra, yayasan, dan kepala SPPG dalam menjalankan SOP tersebut. Menurutnya, keberadaan dapur MBG tidak hanyasoal memenuhi target jumlah dapur, tetapi juga memastikan bahwa setiap porsimakan yang disajikan aman, higienis, dan bernilai gizi tinggi. Penekanan terhadap mutu ini sangat relevan mengingat dapur MBG melayanipuluhan juta anak setiap harinya. Dengan skala yang begitu besar, keamananpangan menjadi kunci utama agar program berjalan konsisten tanpa gangguan. Oleh karena itu, pemerintah memberikan dukungan berupa insentif fasilitas SPPG sebesar Rp6 juta per hari operasional bagi setiap dapur. Insentif ini bukandidasarkan pada jumlah porsi yang disajikan, tetapi diberikan sebagai kompensasiatas kesiapsiagaan fasilitas yang harus selalu memenuhi standar BGN. Insentif tersebut berlaku selama dua tahun pertama dan akan dievaluasi di periodeberikutnya. Kebijakan ini, yang dijelaskan oleh Direktur Sistem Pemenuhan Gizi Kedeputian Sistem dan Tata Kelola BGN Eny Indarti, mengatakan setiap dapurtetap siap beroperasi dengan kualitas yang konsisten, tanpa terkendala kekuranganperalatan maupun kondisi dapur yang tidak memenuhi standar. Dengan adanyadukungan ini, setiap dapur di 38 provinsi dapat menjalankan tugasnya secaraoptimal dalam menyediakan makanan bergizi. Cakupan operasional MBG yang tersebar di seluruh provinsi memberikan dampakluas bagi pemenuhan gizi anak-anak Indonesia. Bukan hanya di kota besar, tetapijuga di kawasan perdesaan, kepulauan, dan daerah terluar. Dengan hadirnya dapurMBG yang berfungsi sebagai pusat distribusi menu sehat, pemerintah memastikanbahwa akses terhadap gizi berkualitas tidak lagi menjadi hambatan bagiperkembangan anak. Hal ini sekaligus memperkuat komitmen nasional untukmewujudkan generasi muda yang lebih sehat, cerdas, dan produktif. MBG juga menciptakan efek pengganda bagi masyarakat. Selain menyediakanmakan sehat, program ini membuka peluang kolaborasi dengan petani lokal, UMKM pangan, serta tenaga ahli gizi dan pengelola dapur di daerah. Dapur-dapur MBG di 38 provinsi menjadi simpul yang menggerakkan rantai pasok pangan sehat yang lebih terorganisasi. Dengan demikian, manfaat program tidak hanya dirasakan oleh anak-anak, tetapi juga mendukung pertumbuhan ekonomi lokal melalui penguatanekosistem pangan bergizi. Keberhasilan penyebaran dapur MBG di…
-
17.060 SPPG Telah Berdiri di 38 Provinsi, MBG Makin Merata Hingga PelosokDaerah
Oleh: Citra Kurnia Khudori)* Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus menunjukkan akselerasi nyata denganberdirinya 17.060 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di 38 provinsi. Capaian ini menandai keseriusan negara dalam memastikan akses gizi yang meratahingga ke pelosok daerah, tanpa terkecuali. Sebaran SPPG yang kian meluas menjadi indikator bahwa kebijakan gizi tidak lagiterpusat di wilayah perkotaan. MBG kini menjelma sebagai program strategis yang menjangkau kelompok rentan dan memperkuat fondasi kualitas sumber dayamanusia Indonesia sejak dini. Jumlah capaian SPPG itu ditegaskan oleh Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana. Ia menegaskan bahwa pertumbuhan layanan MBG meningkatjauh lebih cepat dari perkiraan awal. Sebanyak 17.060 SPPG yang tersebar di seluruh Indonesia itu telah menyasar ke 49 juta penerima manfaat. Dadan bahkan yakin pada pekan kedua Desember 2025, jumlah peneriman manfaatMBG bisa mencapai populasi Korea Selatan, yakni sebanyak 51,5 juta jiwa. Kemudian di akhir tahun ditargetkan mencapai 60 juta penerima manfaat. Dadan menjelaskan, target awal pemerintah pada 2025 sebenarnya hanyamembangun 5.000 SPPG dengan anggaran Rp71 triliun untuk melayani maksimal17,5 juta masyarakat. Namun tingginya antusias publik mendorong PresidenPrabowo Subianto untuk mempercepat perluasan layanan MBG menjadi 82,9 jutapenerima manfaat. Meski target penuh kemungkinan belum tercapai tahun ini, namun BGN tetapoptimistis mampu melayani minimal 60 juta penerima manfaat hingga akhir tahun2025. Selain itu, lanjut Dadan, ia memperkirakan Pembangunan 20.000 SPPG di wilayah aglomerasi serta sekitar 300 SPPG di daerah terpencil akan rampung pada akhir Desember 2025. Dengan percepatan ini, layanan pemenuhan gizi diharapkan semakin merata, terutama bagi kelompok rentan dan wilayah dengan akses pangan yang terbatas. Program ini menjadi bagian penting strategi pemerintah untuk memperkuatketahanan gizi nasional dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia melaluimakanan bergizi yang mudah diakses di seluruh wilayah Indonesia. Percepatan pembangunan SPPG juga membawa dampak langsung terhadappenguatan ekonomi lokal. Kebutuhan bahan pangan yang terus meningkatmendorong keterlibatan petani, peternak, nelayan, hingga pelaku UMKM di daerahsebagai bagian dari rantai pasok MBG. Dengan pola penyerapan bahan bakuberbasis wilayah, program ini tidak hanya menjadi instrumen pemenuhan gizi, tetapijuga menggerakkan roda perekonomian desa dan mengurangi ketimpangan antaradaerah produsen dan konsumen. MBG secara tidak langsung menciptakan siklusekonomi yang berkelanjutan, di mana manfaatnya tidak berhenti pada penerimamakanan, tetapi juga pada masyarakat yang terlibat dalam proses penyediaannya. Di sisi lain, perluasan skala program juga bukan hanya sebatas wacana, tetapiterlihat upaya penguatan tata kelola oleh pemerintah agar kualitas layanan tetapterjaga. Mulai dari standar keamanan pangan, distribusi logistik, hingga pengawasanpenggunaan anggaran dilakukan secara ketat dan transparan. Dalam mendukung program prioritas pemerintah tersebut, Anggota Komisi IX DPR RI, Achmad Ru’yat mengatakan, pembentukan BGN merupakan komitmenpemerintah untuk memastikan manfaat program MBG dapat dirasakan langsungoleh Masyarakat.…
-
Sekolah Rakyat Tahap II Dimulai, Harapan Baru bagi Anak dari Keluarga Pra-Sejahtera
Jakarta — Pemerintah resmi memulai program Sekolah Rakyat Tahap II sebagai kelanjutan dari upaya memperluas akses pendidikan gratis dan berkualitas bagi anak-anak dari keluarga pra-sejahtera di seluruh Indonesia. Program ini hadir sebagai wujud nyata komitmen pemerintah dalam memutus rantai kemiskinan melalui pendidikan inklusif, terukur, dan berkelanjutan. Menteri Pekerjaan Umum (PU), Dody Hanggodo mengatakan setelah merampungkan…
-
Pemerintah Percepat Pembangunan Infrastruktur Sekolah Rakyat demi Pemerataan Akses Pendidikan
JAKARTA – Pemerintah terus menunjukkan komitmennya dalam memperluas akses pendidikan yang merata dan berkualitas melalui percepatan pembangunan infrastruktur Sekolah Rakyat (SR) sebagai bagian dari Program Sekolah Rakyat Tahap II. Langkah strategis ini menjadi bukti nyata upaya pemerintah dalam memastikan seluruh anak Indonesia, tanpa terkecuali, memperoleh kesempatan belajar di lingkungan yang modern, aman, dan sesuai standar…
-
Sekolah Rakyat Jadi Jalan Pendidikan dan Harapan bagi Generasi Muda dari Pelosok
Oleh : Andhika Pratama Di berbagai pelosok Indonesia, akses terhadap pendidikan yang layak masih menjadi tantangan besar bagi banyak anak. Jarak yang jauh, keterbatasan infrastruktur, serta minimnya tenaga pendidik kerap menjadi hambatan utama bagi mereka yang ingin mengenyam pendidikan yang berkualitas. Namun, di tengah berbagai keterbatasan ini, hadir gerakan Sekolah Rakyat sebagai salah satu bentuk inovasi sosial…
