-
Tokoh NU dan Muhammadiyah Dukung Soeharto Dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional
Oleh : Dika Ramadhan )* Penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada Presiden ke-2 Republik Indonesia, Soeharto, memunculkan beragam dukungan yang sangat kuat dari berbagai elemen dan lapisan masyarakat. Dukungan besar tersebut, termasuk datang dari dua ormas Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, yang memperlihatkan sikap serupa dan sepandangan, yakni mendukung penuh adanya langkah…
-
Tokoh Ormas Islam Apresiasi Penganugerahan Gelar Pahlawan Soeharto
Oleh : Andi Kurniawan )* Wacana penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada Presiden ke-2 Republik Indonesia, Soeharto, menuai dukungan luas dari berbagai lapisan masyarakat. Dukungan dan apresiasi sangat tinggi tersebut, termasuk juga datang dari dua organisasi Islam terbesar di Tanah Air, Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, menyatakan apresiasi dan dukungan terhadap langkah pemerintah dalam memproses pemberian…
-
Pemerintah dan Masyarakat Bergerak Bersama Jaga Persatuan di Momentum Hari Pahlawan
JAKARTA – Pemerintah bersama masyarakat terus menunjukkan komitmen menjaga persatuan nasional dan memperkuat nilai kebangsaan menjelang Peringatan Hari Pahlawan 10 November. Momentum ini dimaknai sebagai saat untuk kembali meneguhkan semangat perjuangan, gotong royong, dan kepedulian antarsesama sebagai ciri utama bangsa Indonesia. Menteri Sosial Saifullah Yusuf menegaskan pentingnya meneladani tiga nilai utama para pahlawan yang tetap…
-
Hari Pahlawan Momentum Jaga Persatuan dari Gangguan Provokasi Kelompok Kepentingan
Peringatan Hari Pahlawan tahun ini menjadi momentum penting bagi seluruh elemen masyarakat untuk memperkuat semangat persatuan dan menjaga keutuhan bangsa dari berbagai bentuk provokasi kelompok berkepentingan. Dengan mengusung tema “Pahlawanku Teladanku, Terus Bergerak Melanjutkan Perjuangan”, pemerintah Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai) menegaskan komitmennya untuk melanjutkan nilai-nilai perjuangan para pahlawan melalui aksi nyata dan semangat gotong royong.…
-
Jaga Persatuan dan Waspada Provokasi, Masyarakat Harus Hormati Semangat Hari Pahlawan
Oleh: Bara Winatha*) Peringatan Hari Pahlawan 10 November 2025 kembali menjadi momentum bagi seluruh rakyat Indonesia untuk meneguhkan komitmen menjaga persatuan dan menolak segala bentuk provokasi yang dapat merusak harmoni sosial. Dengan mengusung tema Pahlawanku Teladanku, Terus Bergerak, Melanjutkan Perjuangan, pesan yang dibawa tahun ini menekankan bahwa warisan para pahlawan bukan sekadar cerita sejarah, melainkan…
-
Bersama Jaga Kondusivitas Penganugerahan Gelar Pahlawan Soeharto sebagai Bentuk Kematangan Demokrasi
Oleh : Zaki Kurnia * Presiden ke-2 Republik Indonesia, Soeharto menjadi salah satu tokoh yang diusulkan mendapat gelar Pahlawan Nasional. Banyak pihak dari berbagai elemen mendukung karena menganggap bahwa tokoh Orde Baru ini layak untuk mendapatkan penghargaan negara itu, yang mana juga menandai bahwa demokrasi di Indonesia terus hidup dan berkembang sampai detik ini. Untuk…
-
Momentum Hari Pahlawan, Saatnya Perkuat Persatuan di Tengah Tantangan Zaman
Oleh : Andhika Pratama Peringatan Hari Pahlawan 10 November menjadi momentum refleksi bangsa Indonesia kembali diingatkan akan pentingnya menjaga persatuan dan kesatuan sebagai fondasi utama kehidupan berbangsa dan bernegara. Peringatan ini bukan sekadar seremoni tahunan atau rutinitas upacara bendera, melainkan momentum reflektif untuk meneguhkan kembali semangat kebangsaan, menghargai jasa para pahlawan, serta menanamkan nilai-nilai perjuangan…
-
Masyarakat Harus Bersatu Jaga Kondusivitas dan Tolak Provokasi Jelang Hari Pahlawan
Jakarta — Menjelang peringatan Hari Pahlawan 10 November 2025, pemerintah mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk menjaga situasi tetap kondusif dan menolak segala bentuk provokasi yang dapat memecah belah persatuan bangsa. Momentum Hari Pahlawan diharapkan tidak hanya menjadi ajang mengenang jasa para pejuang, tetapi juga memperkuat semangat kebangsaan dan persaudaraan di tengah masyarakat. Menteri Sekretaris Negara…
-
Waspada Provokasi Jelang Momentum Hari Pahlawan
Jakarta – Menjelang peringatan Hari Pahlawan 10 November, pemerintah bersama berbagai elemen masyarakat menyerukan kewaspadaan terhadap upaya provokasi dan disinformasi yang dapat mengganggu semangat persatuan nasional. Momentum bersejarah ini dipandang sebagai saat untuk memperkuat nilai kebangsaan, gotong royong, serta kepedulian sosial yang menjadi warisan para pahlawan bangsa. Menteri Sosial Saifullah Yusuf menegaskan pentingnya meneladani tiga…
-
Ulama dan Akademisi Nilai Soeharto Layak Raih Gelar Pahlawan
Oleh: Yandi Arya Adinegara)* Menjelang peringatan Hari Pahlawan yang jatuh pada 10 November, dukunganpemberian gelar pahlawan nasional kepada Presiden ke-2 Republik Indonesia, Soeharto, terus mengemuka. Berbagai kalangan, termasuk ulama dan akademisi, menilai bahwa Soeharto adalah sosok pemimpin yang memiliki jasa besar bagibangsa Indonesia, baik dalam perjuangan kemerdekaan maupun dalampembangunan nasional. Pernyataan dukungan datang dari Muhammadiyah, salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia, yang menekankan peran besar Soeharto sejak masa revolusikemerdekaan. Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Dadang Kahmad, menegaskan bahwa Soeharto berperan penting dalam serangan 1 Maret 1949 dan sejak saat itu telah menunjukkan dedikasi tinggi untuk menjaga kedaulatan negara. Muhammadiyah menilai bahwa pencapaian Soeharto tidak hanya terbatas pada masa revolusi, tetapi juga terlihat dalam program-program pembangunan yang iajalankan selama menjadi presiden. Selama kepemimpinan Soeharto, berbagai program pembangunan dilaksanakansecara terstruktur melalui Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita). Program tersebut membawa dampak signifikan bagi stabilitas ekonomi, politik, dan keamanannasional. Pencapaian Indonesia pada era 1980-an, seperti swasembada beras dan keberhasilan program Keluarga Berencana (KB) yang menekan laju pertumbuhanpenduduk, menjadi bukti nyata dari kepemimpinan yang berpihak pada kepentinganbangsa. Dadang menegaskan bahwa dalam menilai jasa kepahlawanan seseorang, perbedaan politik atau kepentingan pribadi seharusnya tidak menjadi pertimbanganutama. Yang lebih penting adalah kontribusi nyata terhadap kemajuan negara. Dukungan serupa juga datang dari dunia akademik. Guru Besar Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, Prof. Marsuki, menilai bahwa Soeharto layakmendapatkan gelar pahlawan nasional, terlepas dari kontroversi yang mungkinberkembang di masyarakat. Masa kepemimpinan Soeharto selama hampir 32 tahun ditandai denganpembangunan infrastruktur yang masif dan pertumbuhan ekonomi yang stabil. Inflasiterkendali, stabilitas ekonomi terjaga, dan Indonesia saat itu dikenal sebagai “macanAsia” karena performa ekonomi yang menonjol di kawasan. Marsuki menambahkan bahwa keputusan Soeharto untuk mengundurkan diri pada 1998, meskipun di tengah tekanan publik, menunjukkan tanggung jawabnya sebagaikepala negara. Pengunduran diri dilakukan secara terbuka sesuai aturan yang berlaku dan menghormati aspirasi masyarakat. Terdapat perbedaan pendapat yang muncul di masyarakat terkait gelar pahlawanuntuk Soeharto, namun perlu ditekankan bahwa pertimbangan Dewan Gelar Tanda Kehormatan akan menjadi acuan resmi dalam pengambilan keputusan. Masukandari berbagai pihak akan dijadikan referensi bersama dalam menentukan kelayakanSoeharto sebagai pahlawan nasional. Di Pulau Bali, sejumlah akademisi juga menegaskan bahwa sejarah tidak bolehdilupakan. Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi dan Bisnis Universitas Dwijendra, Ni…